Dampak Negatif Dari Media Sosial Bagi Kesehatan

Dampak Negatif Dari Media Sosial Bagi Kesehatan

Posted on

Bicara sosial media, sudah bukan lagi menjadi sesuatu yang sempit di era yang digadang-gadang era millenial ini. Sosial media selayaknya sudah menjadi kewajiban yang harus dimiliki setiap orang. Dengan adanya sosial media tersebut masyarakat akan semakin dimudahkan dalam berbagai aktivitasnya salah satunya aktivitas dalam menjalin komunikasi.

Namun dibalik segala manfaat yang sudah dapat kita nikmati manfaatnya sampai sekarang, orang-orang belum terlalu memperdulikan tentang dampak-dampak negatif yang ada dari jejaringan sosial media itu sendiri. Dan dalam artikel ini akan membahas apa saja sih dampak-dampak yang ditimbulkan dari adanya sosial media.

    1. Menurunnya tingkat kesehatan
      Sehat itu mahal harganya, dan percayakah kamu jika sosial media ternyata memiliki pengaruh terhadap kesehatan? Mau tidak mau kamu harus percaya karena dampak ini telah terbukti benar adanya setelah dilakukan oleh banyak peneliti di dunia. Jika kamu sudah terlalu asyik(kecanduan) memainkan sosial media maka mata kamu akan selalu terpaku kepada layar smartphone yang tentu akan mengganggu kesehatan matamu.
      Terlebih jika kamu terus menerus melakukan aktivitas tersebut hingga sampai larut malam, selain akan mengganggu kesehatan mata, berat badan kamu bisa saja naik. Hal tersebut pernah dikemukakan oleh para peneliti Nothwestern University, mereka menyatakan bahwa penggunaan smartphone saat di jam-jam tidur akan dapat menyebabkan obesitas karena paparan sinar biru dari gadget dapat meningkatkan hormone ghrelin yang berfungsi memberi sinyal lapar pada tubuh manusia.
    2. Memungkinkan menjadi seorang yang individualis
      Inilah hal yang sering kita lihat di daerah sekeliling kita, karena sudah banyak kita temui orang-orang yang asyik sendiri dengan smartphonenya. Jika seseorang terlalu menikmati dengan adanya sosial media ini maka sifat individualisnya akan lambat laun muncul. Sehingga seseorang ini lebih menikmati keberadaannya dalam kesendirian meskipun ketika bertemu dengan banyak orang
    3. Menimbulkan sikap acuh terhadap orang-orang disekeliling
      Dari dampak individualis dari penggunaan sosial media juga menjadikan seseorang lemah dalam bersimpati bahkan berempati terhadap keadaan lingkungan sekitarnya karena perhatiannya akan selalu tertuju pada layar smartphonenya. Hal ini banyak kita temui di tempat-tempat umum. Misalnya saat di kendaraan umum
    4. Terjadinya cyber-bullying
      Apakah itu cyber bullying? cyber bullying adalah bentuk kekerasan di internet yang dilakukan atau dialami oleh seseorang terutama anak-anak dan remaja. Umumnya cyber bullying biasa dilakukan oleh para remaja dimana pada usia-usia tersebut mereka membutuhkan pengakuan tentang keberadaan mereka
    5. Maraknya kejahatan yang berasal dari sosial media
      Kita mungkin sudah sering mendengar kabar di berita-berita tentang kasus kejahatan yang berawal dari jejaringan sosial media ini, diantaranya seperti kasus penculikan, pemerkosaan hingga pembunuhan. Ini adalah salah satu dampak negatif yang cukup parah dari sosial media. Ketika di sisi lain sosial media memberikan dampak positif untuk menambah pertemanan,di sisi lain ada dampak negatif yang harus kita perhatikan.
      Hal ini umumnya terjadi pada seseorang yang usianya masih sekitaran remaja. Sifat pemikiran remaja yang cenderung masih labil inilah yang akan lebih mudah bagi pelaku kejahatan untuk melaksanakan aksinya tersebut. Kamu bisa lebih selektif untuk menjalin pertemanan jika kamu baru mengenalnya melalui sosial media.
    6. Menurunkan produktivitas
      Salah satu yang bisa memicu menurunnya produktivitas seseorang adalah ketika fokusnya tergantikan oleh hal-hal yang lain. Tentu penggunaan sosial media yang berlebih maka akan membuat kamu enggan untuk melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat dan yang bisa kamu lakukan.
    7. Bisa melalaikan sesuatu yang menjadi kewajiban
      Seseorang tentu mempunyai kewajiban yang seharusnya bisa sesegera mungkin untuk dilakukan. Seperti misalnya bagi seseorang yang beragama Islam setiap harinya harus melaksanakan ibadah sholat yang merupakan ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi seorang pelajar juga mempunyai kewajiban untuk belajar. Disini sosial media tentu berperan untuk membuat seseorang menunda akan pekerjaaannya.
      Yang sangat disayangkan pelajar-pelajar saat ini banyak yang mengalihkan fokusnya untuk kegiatannya bersosial media. Tidak hanya di rumah, ketika di sekolah pun tempat yang seharusnya digunakan sebagai tempat menuntut ilmu kadang kalanya tergangggu ketika seorang murid lebih sering menggunakan handphonenya di dalam kelas untuk kegiatan diluar materi pembelajaran.
    8. Menghambat mimpi dan cita-cita
      ketika produktivitas-produktivitas seseorang mulai menurun maka hal-hal yang seharusnya untuk dilakukan agar mencapai tujuannya akan terhambat dikarenakan seseorang tersebut telah berada di zona nyaman yang membuat enggan bergerak sehingga mengakibatkan lupa bahwasannya seseorang tersebut mempunyai mimpi yang harus dia dikejar.
    9. Maraknya informasi kebohongan
      Kata “Sebarkan!” tersebut acap kali kita lihat di sosial-sosial media seperti facebook, whatsapp, dan yang lain. Bagi seseorang yang belum memiliki pemikiran kritis tentu dengan mudahnya percaya dengan informasi yang belum jelas akan kebenarannya sehingga kemudian pesan berantai tersebut beredar dimana-mana. Informasi-informasi yang isinya berupa kebohongan ini sering kali kita menyebutnya dengan hoax.
      Yang menakjubkan beberapa kali kabar hoax bisa menjadi viral karena banyaknya seseorang yang menerima kemudian menyebar luaskannya.
    10. Membuat hidup lebih konsumtif
      Kehidupan di era modern seperti ini nampaknya akan semakin menambahkan kebutuhan seseorang. Salah satunya kebutuhan untuk pembelian paket data internet. Bagi seseorang yang sudah mengalami kecanduanan terhadap internet terutama sosial media. Ketika kuota maupun paket data yang dimiliki sudah habis tanpa pikir panjang tentu akan langsung menyegerakan untuk mengisinya kembali tanpa memikirkan keperluan yang harus diutamakan.
      Mungkin hal ini tidaklah terlalu penting bagi seseorang yang berada dikalangan menengah ke atas.